Tristesse—Ayudia Jung.

DCsvSLFUQAA3CXE

Tristesse

by Ayudia Jung

Casted Mark Lee x You
Genre sad Rate General Leght Drabble

Summary

Karena Mark, aku belajar tentang sebuah keikhlasan yang menjadi kosakata permanen ketika menghadapi kehilangan.

.

.

.

Selubung kabut kelabu yang samar tergambar di angkasa membuat seantero kota dibungkus oleh suasana lembab yang cukup kentara. Seakan mengintrupsi para pengguna jalan untuk bergegas mencari perlindungan dengan segera sebelum rangkaian gumpalan kelabu diatas runtuh jatuh menjadi ribuan. Pun rapuhnya angin yang berarak menuju timur menguar menjadi alunan gemertak ranting di angkasa yang berkolaborasi. Sementara mentari sudah beberapa jam lalu terpilin diantara awan kelabu yang menggantung, enggan nampak kembali untuk mengusir gelapnya senja yang datang hari ini.

Aku terdiam untuk beberapa saat. Membiarkan dingin abadi bersemayam pada tiap lipatan kulit terluar milikku. Dinginnya tidak begitu menjengkelkan—hanya saja aku mulai kerepotan untuk dapat mengondisikan hidungku yang sedikit berair mulai sekarang. Tanganku mengusik ruang saku jaket tebal gelapku yang kemudian mencari ruang untuk memblokade dinginya suhu hari ini. Menurut temperatur, minus tiga untuk hari ini.

Aku lantas mendorong badan sampai jatuh di atas kursi panjang tepat di bawah kanopi ruang tunggu stasiun. Menunggu memang membosankan.

“Biasanya kereta paling terakhir datang kurang dari dua puluh menit dari sekarang.” begitu katanya ketika aku mencuri beberapa patah kalimat dari beberapa gadis yang sibuk mengobrol disebelahku. Jika memang benar apa yang gadis itu katakan, maka sebentar lagi pemuda itu akan tiba.

Aku tersenyum simpul. Terasa begitu membosankan tetapi aku merasa baik-baik saja untuk menunggunya datang.

Belum genap menunggu dua puluh menit, tiba-tiba juntaian rinai air jatuh berulang. Tepat sama seperti yang sudah aku pikirkan sebelumnya; bermula dengan percikan yang jatuh dengan halus untuk beberapa detik dan berakhir menjadi tempo yang begitu cepat bahkan terdengar sampai melebihi denyut nadiku jatuhnya rinai hujan itu. Aku menghela nafas panjang, menatap mekaran payung yang terlihat seperti bunga yang bersemi di musim gugur namun dalam bentuk penyesalan karena lupa membawanya kemari.

“Sudah menunggu lama?” Aku terlonjak. Menatapnya kaget setelah mendapati pemuda dengan surai hitam kental itu tersenyum canggung disampingku. Aku tidak tahu sejak kapan pemuda itu bisa duduk bersama denganku di kursi rotan panjang ini.

“Mark? Sejak kapan kamu tiba disini?” Aku masih dalam keadaan kaget melihatnya disini karena belum genap dua puluh menit aku menunggunya.

“Sejak kamu melamun melihat payung milik orang lain,” Mark terkekeh pelan. “Kenapa memangnya?” Aku hanya tersenyum canggung setelahnya. Pasti terlihat bodoh didepan Mark.

“Tidak apa-apa, hanya saja kamu datang terlalu cepat dari jadwalnya,” aku lantas melirik pada pergelangan tangan yang terbalut jam dari metalik klasik milik pemberian mendiang kakek.

Mark lantas mengangkat tangannya pada puncak kepalaku, merusak tatanan rambut yang aku tata sedemikian rupa. Aku benci ketika interprestasinya kembali menyelundupi pikiranku. Hampir saja mengarakku jatuh dalam hipnotis lekukan wajahnya yang terlihat sempurna bagiku. Kolaborasi rasa menyambangi diriku—jadi bingung ketika jemariku hanya sanggup memilin bodoh ujung seragam sekolah yang masih melekat padaku sesenja ini.

Mark adalah pemuda pemilik rumah putih kusam di penghujung komplek perumahan. Sedangkan dua rumah lagi ke timur adalah rumah milikku. Kami menjadi begitu akrab ketika suatu hari Mark tidak sengaja salah masuk rumah. Arsitektur rumah kami nyaris sama hanya sedikit beda pada kusen pintunya, tapi entah kenapa pemuda yang terlihat menginjak usia belasan tahun itu dengan lancangnya masuk sambil berteriak kelelahan. Aku pikir hidupku akan berakhir hari itu atau malah Mark sendiri yang hampir meregang nyawa jika saja dia tidak terkejut heboh saat aku hampir memukulnya. Kupikir ada seorang pencuri menyambangi rumahku untuk targetnya dan siap untuk menghabisi nyawaku. Tentu saja aku membawakannya pemukul bisbol milik kakak dan hampir mengenai kepalanya untuk beberapa detik kedepan— namun terurung ketika pemuda itu langsung keluar rumah.

“Ini bukan rumahku ya?”

“Kamu pencuri ya?” Aku mendekat. Masih ingin sekali memukul kepalanya.

“Pencuri?Apa penampilanku seperti pencuri?” Pemuda itu lantas kembali menjauh sedikit berlari. Aku masih melihat di lekukan wajahnya yang menyampaikan sorot bingung. Seperti tipikal pencuri handal yang ketauan dan membuat naskah drama dadakan, seperti dia sekarang.

“Namaku Mark,” Aku tidak peduli siapa namanya saat itu. Dia berjingkat di pembatas kayu rapuh depan rumahku. “Rumahku dipenghujung sana.Maaf, aku salah masuk rumahmu sepertinya,” aku meliriknya tajam sebagai balasan.

Namun semenjak kejadian itu, aku dan Mark menjadi sering mengadakan pertemuan. Menjadi pemuda satu-satunya yang akan menemaniku dan menjadi satu-satunya pemuda yang mengantarku kemanapun dengan ikhlas—walaupun kadang dia memekik karena aku memukulnya dengan tongkat bisbol untuk mengganggu jam tidur berharganya— namun akan tetap dia yang mengantarku. Menjadi pemuda yang akan ada disetiap aku membutuhkannya.

Mark tiba-tiba menjatuhkan kedua tangganya pada pundakku. Membuatku terbelalak kaget karena perbuataanya barusan. Mark hanya tertawa untuk beberapa detik berikutnya sebagai tanggapan keterkagetanku, padahal aku nyaris terjungkal jika saja tangannya itu tidak meraih bahuku kuat.

“Sedang memikirkan apa?” Sepertinya aku barusan mengingat kejadian paling memalukan sepanjang hidupnya Mark. Aku menggeleng sebagai jawaban untuknya.

Suasana stasiun menjadi mulai sedikit surut sekarang. Aku sudah tidak melihat gadis yang tadi begitu berisik disebelahku. Mungkin kereta sudah membawanya pulang atau mereka sudah bertemu dengan seseorang yang ia tunggu dan bergegas pulang sebelum dimakan petang.

Lamat-lamat lampu penerangan stasiun menjadi redup sejauh mata, atau hanya perasaanku saja. Mark masih diam duduk disampingku.

“Bagaimana perjalanan keretamu hari ini?” Aku bergetar ketika memecahkan keheningan. Aku tidak tahu mengapa di antara kami menjadi begitu canggung begini. Mungkin suasana yang membawanya. Pun aku tidak tahu mengapa hujan tak kunjung menyerah untuk jatuh meskipun berkali-kali tetap terabaikan.

“Tidak menyenangkan sama sekali,” Aku mengangkat sebelah alisku menjadi responden selanjutnya. Sedangkan dia hanya mengangkat bahunya diselingi dengan rotasi bola matanya yang terlihat kesal.“Apanya yang tidak menyenangkan?”

“Keretanya mengalami kecelakaan dengan mobil pengangkut minyak.” Aku terbelalak kaget dengan tidak sadar mengangkat tanganku dan menamparkannya pada wajah pemuda yang bersorot lelah itu. Dia bergegas memegang kedua pipinya dengan cepat.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Maaf, aku tidak ingin mendengar kamu membicarakan hal yang tidak-tidak saat ini,” aku terkekeh sebentar lalu menatapnya dengan iba ketika pemuda itu benar-benar mengusap pipinya dengan kesakitan. “Aku serius kali ini.” proyeksi kesedihan yang serius di wajahnyayang tak dapat tersamarkan.

“Lalu bagaimana penumpang keretanya?” aku bertanya dengan hati-hati. Pantas saja aku tidak melihat kereta yang tertinggal. “Semuanya tewas karena ledakan minyaknya.”

Aku tak pandai beretorika, mengucap sepatah kata pun aku tak kuasa. Aku terkejut bukankarena di buat-buat. Aku lantas menatatap irisnya yang sayu seperti suasana senja ini.

“Bahkan gadis cilik yang yang bermain denganku di kereta juga tewas, aku melihatnya.” Mark kembali menyuarakan ceritanya. Berlipat kesedihan yang terukir di rahangnya yang tegas. Aku tahu situasinya sekarang.

Mark melepas jaketnya dibawah suhu minus tiga.

“Kau pakai saja,” Mark menaruh jaket pada punggungku. Komposisi kompleks yang berdurasi sekitar beberapa detik itu benar-benar merefleksikan kesedihan yang datang. Aku masih terdiam. Pada detik yang sama, Mark telah mengajarkan beberapa hal kepadaku tanpa ia sadari; tentang keikhlasan yang mejadi kosakata permanen ketika menghadapi kehilangan. Aku tahu seberapa rapuhnya pemuda itu ketika kehilangan. Namun senyum simpulnya sedari tadi memanupulasi segalanya. Aku tahu dia ikhlas dengan takdirnya hari ini. Namun sepertinya aku sedikit tidak ikhlas melepaskannya.

“Aku sebenarnya masih ingin bersamamu, mengahabiskan waktu kita berdua kembali. Namun sepertinya tertulis tidak untuk direncana yang sudah dibuat, kan?”

Aku berani bersumpah, seluruh gerakan maupun gumaman yang ingin aku sampaikan seketika menggunung beku. Aku jadi tidak setega ini melihatnya.

“Maaf, aku pergi mendahuluimu, tidak dapat menemuimu kembali untuk waktu yang lama nanti,” Aku meruntuhkan pertahanan, menangis. Aku lantas menarik tangannya yang dingin dan pucat, merapalkan kalimat panjang untuknya agar sampai terdengar ke atas. Aku ingin Mark datang kembali dengan senyumnya yang merekah.

“Mark, terima kasih untuk semuanya,” Aku ingin berlari. Keinginanku untuk berlari menjauh darinya semakin membuncah, namun tetap saja aku terpaku dalam spiral waktu. Menatap senyumnya yang samar memudar ketika irisnya menemukan air mataku yang tergenang. Aku bukan bermaksud menghapus senyumnya, aku bersumpah.

“Aku minta maaf,” ucapnya menduplikasi. Namun kali ini disumbangi senyumnya merekah manis bak bunga mekar.

Berharap semuanya hanya menjadi bagian klise rangkaian mimpi panjang untuk bunga tidurku hari ini, sehingga ketika mataku membuka aku hanya mendapati diri dengan baju piyama di atas kasur, semoga. Aku menutup mata serapat mungkin. Tidak membiarkan cahaya memantul pada retinaku sedikitpun saat ini. Berharap semuanya akan berakhir dengan segera dan menemui Mark dengan senyumnya kembali nanti.

“ Tolong kembali Mark,”Aku membuka mata.

Namun tidak menemukan Mark kembali dihadapanku.

Tangan yang kugenggam erat seakan menjadi hal yang sia-sia selama ini.

Mark pergi bersama angin dingin yang menjulang tinggi berarak pergi menjauh.

Meninggalkan segalanya dan mengabaikan perasaanku yang hancur karenanya.

Aku membenci segala hal tentang Mark, namun aku tidak pernah sekalipun melewatkan segala hal tentang Mark.

Karena Mark, aku belajar tentang sebuah keikhlasan yang menjadi kosakata permanen ketika menghadapi kehilangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s