You Never Walk Alone: Boys Meets Evil

poster copy.jpg

You Never Walk Alone: Boys Meets Evil

.

Storyline by Ayudia Jung & PutrisafirA255

.

starring BTS (Jeon Jungkook, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, , Park Jimin, Kim Taehyung,) duration 18-shots genre AU, Life, Friendship, Angst, Fantasy, etc. rating General

.

part 1 of 18

.

My breath is getting shorter,

I close my eyes every night from twisted reality.

.

.

.

Salju menutup hampir semua tempat yang bisa ia jangkau dari iris coklat pekatnya. Kaca jendela yang sedari tadi menghubungkan sosoknya pada alam pun mengembun berkat hembusan napas. Jari telunjuknya pun terangkat, menuliskan sebuah kata yang begitu teramat ia rindukan.

Hyung

Satu kata itu selalu terngiang dalam pikirannya. Menghanyutkan seluruh sistem saraf dalam otaknya hingga ia lantas menutup mata. Mengingat semua kesakitan, kesenangan dan kesedihan yang selalu hadir bersama para tetua. Enam pria yang siap sedia menukarkan jiwa mereka demi dirinya, untuk mencari sebuah kebebasan. Pria Jeon itu sangat beruntung memiliki mereka semua.

“Hai, Jeon Jungkook!”

Seorang pria dengan hoodie merah dan jaket biru tua pun menyapa di hadapannya. Wajahnya begitu ceria, namun matanya menampakkan kesedihan yang mendalam. Bibirnya pucat, senada dengan parasnya. Semua itu bak cinta yang terbalut kesedihan. Bisakah Jungkook menyebutnya seperti itu?

Ia ingin sekali bertanya, jika saja tatapan yang pria itu berikan tidaklah mengintimidasi. Jungkook hanya bisa menunduk, dan sesekali mendapati tatapan itu berubah menjadi sebuah kasih sayang yang tersembunyi di balik iris biru lautnya. Tetapi, semakin ia memendam semua kuriositas yang ada, semakin pula dadanya sesak.

Hyung,

Baritonya menggemakan gelombang suara yang tertangkap indra pendengaran si lawan bicara. Sempat dilanda kegelisahan lantaran tak ada `sahutan dari si pria berhoodie merah di hadapannya itu. Yang ada hanyalah seulas senyum tipis sarat akan kesakitan. Kendati demikian, tak lama kemudian ia menimpali dengan sebaris kalimat yang bisa menusuk hati pria Jeon itu. “I miss you, my kookie.

Hening mendominasi secara mendadak. Tak ada peringatan maupun pemberitahuan saat pria yang lebih tua darinya itu mengucapkan kalimat sejurus rindu yang mendalam. Sekelebat ingatan pun menyerang Jungkook sepersekian detik kemudian. Hari ini, ia pernah merasakan sebelumnya. Seperti de javu, semuanya nampak jelas dan persis. Apa yang ia katakan, dan apa yang pria di depannya itu menyahut. Tak ada yang menyimpang sedikit pun.

“Rasa sakit itu akan datang sebelum kau merasakan kebahagiaan.”

“Namjoon hyung,” Jungkook merasakan ada sebuah makna tersirat di dalamnya. Seolah itu adalah sebuah ingatan yang pria itu berikan kepadanya untuknya. Sebuah kenangan yang selamanya akan diingat dan menjadi sejarah. Seketika itu juga, dadanya terasa sesak. Kepalanya pening hingga ingin kehilangan kesadaran. Namun, tangan Namjoon lekas menyentuh pundak pria Jeon itu.

“Kau sudah sampai. Ayo! yang lainnya sudah menunggu,”

***

Sebuah gubuk kecil di sudut kota itu sudah rapuh. Pintunya yang terbuat dari kayu pun telah usang. Ada sebuah pohon tanpa dahan menjulang tinggi di belakangnya. Ia juga sempat melihat pohon itu sebelumnya, berikut juga dengan satu kalimat yang menggema entah berasal darimana. Yang bisa Jungkook ingat adalah; mati nampak hidup dan hidup nampak mati.

“Diluar dingin, Jeon. Tak mau masuk?”

Kali ini, bukan suara bariton Namjoon yang memberikan getaran suara pada gendang telinganya, melainkan sesosok pria yang memiliki para lembut, seperti seorang ibu—yang melindungi dan menenangkan anaknya ketika sedang merasakan kegelisahan.

“Jin hyung,” panggilnya. Ia pun lekas meregas jarak dan merengkuh pria itu dengan begitu erat. Meskipun tak ada ingatan yang spesifik, tetapi ia bisa merasakan betul hubungannya dengan pria Kim itu. “Sangat merindukanku, hm?” tanyanya sembari menepuk punggung Jungkok pelan.

Jika diperbolehkan jujur, Jungkook sebenarnya tak terlalu mengingat pria yang ada dalam rengkuhannya saat ini. Tetapi, perasaan rindu terpancang terlalu kuat, sampai-sampai jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya. “Tentu,” sahutnya dengan sedikit ragu, namun tak begitu kentara. Jin pun mengangguk, kemudian melepaskan rengkuhan dan beralih dari ambang pintu, agar si pria Jeon itu lekas masuk.

Jungkook pun tersenyum, mengucapkan terima kasih lewat lirikan matanya, kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Ketika pintu telah ditutup oleh Jin, semua kenangan kembali seketika. Banyak sekali kenangan yang terlalu lama terpendam dalam ingatan dan sekarang menguap layaknya kopi panas yang baru disajikan. Rasa sakit dari penyesalan masa lalu dan kebahagiaan di masa sekarang pun berperang. Membuat dadanya sesak tanpa ampun.

“Jungkook, kau baik-baik saja?”

Kini, giliran seorang pria berambut merah muda dengan kaus panjang bergaris hitam putih pun mendekatinya. Pria itu nampak sangat khawatir—Jimin. “Duduklah,” pintanya, kemudian mencengkeram bahu Jungkook dan memapahnya ke atas sofa berwarna coklat muda yang mulai menguning saking lamanya dibiarkan ada di sana. Jungkook masih sibuk menepuk dadanya berkali-kali. Namun, tak melewatkan para hyung-nya yang menatapnya takut.

“Kalian semua tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja,” ucapnya. Iris coklatnya mendongak, mengedarkan tatapannya pada satu-persatu pria yang mengerubunginya. “Aku selalu mengingat kalian. Apapun yang terjadi. Karena, tanpa kalian, aku tidak mungkin bisa seperti ini.”

Dari yang paling tua—Namjoon—sampai yang paling muda sebelum dirinya—Taehyung—pun menjungkitkan sebelah alisnya. Tak tahu kemana arah pembicaraan ketika si bungsu mengambil konversasi menjadi dominan. Suaranya serak dengan penuh nada penyesalan, seperti ada kesalahan yang telah ia lakukan—atau mungkin tidak. Well, dalam hal ini hanya Jungkook-lah yang tahu.

“Tidak peduli seberapa besar aku mencoba untuk menyembunyikannya, semua itu tidak akan pergi. Maka dari itu, jika aku mempunyai kesalahan pada kalian semua, aku minta maaf.” Ia kembali bersuara, namun kali ini setetes air mata membasahi pipinya. Sesaknya semakin terasa, meskipun kini lambat laun sudah membaik. Seiring dengan kalimat Taehyung yang terucap. “Tidak. Angka lima belas itu masih terlalu muda untuk menyesali perbuatan. Itu adalah pengalaman yang akan menjadi pedomanmu dalam menjalani di kehidupan selanjutnya.”

Bak mantra yang terucap oleh sang pemberi hukuman, dada Jungkook tak lagi terasa sakit. Semua hyung-nya tersenyum, memberi kekuatan melalui tatapan matanya. “Kami akan selalu melindungimu apapun yang terjadi. Kau bisa pastikan itu,”

Ya, Jungkook tahu itu. Dan ia selalu percaya apa yang semua hyung-nya katakan.

***

.

.

.

Hallo!

Ini adalah project kolaborasi pertama aku sama ayudia. Abis BTS comeback, dia pengen banget bikin ff dengan subjudul-nya lagu dari BTS. So, sebagai teman yang baik, aku akan mengabulkan 😀

Okay, ini masih prolog, ya. Yang sabar menanti, karena chapter ini masih panjang. So, buat yang kepo, setiap minggunya kita bakal update setidaknya satu kalo gak dua chap. Silahkan berkomentar dan jangan lupa like-nya, ya.. Untuk prolog, aku yang nulis. Sedangkan, untuk yang selanjutnya, ditulis oleh Ayudia Jung. Seterusnya akan seperti itu hingga episode terakhir.

 

Regards,

PutrisafirA255

Iklan

Penulis: PutrisafirA255

Hanya seorang manusia biasa yang suka menulis cerita tanpa ada unsur kesengajaan. Suka menghibur makhluk sejenis yang sedang sedih, meskipun diri sendiri merasakan hal yang sama. Baru kenal FF dua tahun namun sudah menggantungkan hidup dengannya. Jangan sungkan untuk bertanya tentangku. Aku gak gigit, kok! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s