ME AND JENO – Ayudia Jung.

jeno-copy

ME AND JENO

by Ayudia Jung

Cast [NCT’s Lee Jeno x OC’s Im Yoojung]

Genre Schoolife, Fluff, Romance│ Rate Teen 

Based on Ayudia Jung’s prompt 

“One summer as we were hit by downpour, once again.”

Summary: 
” Kata Jeno, cinta itu tentang kepercayaan.”

.

.

.

Kata Jeno, ketika kita tengah terjebak dalam romansa atmosfer cinta, kita tidak perlu mendeklarisakan rasanya setiap saat. Tidak perlu mengudara rangkaian kalimat semanis buah jeruk masak setiap saat.  Tidak perlu saling besorot iris mata setiap saat ketika merindu.

Kata Jeno, cinta itu tentang kepercayaan.

Seperti saat ini dimana aku tengah berdiri diatas trotoar di musim peralihan pada dingin. Sedikit menginstruksiku untuk mengeratkan kedua tanganku yang entah sejak kapan tanpa kusadari tengah bersedekap erat. Biasanya, Jeno akan datang lalu memberikan jaketnya kepadaku. Kalau sempat, dia akan menghantarkanku sampai kerumah. Tapi Jeno sepertinya terlalu sibuk.

Biasanya juga ada Hyejin dan Yerin—kedua sahabatku—yang entah kemana perginya mereka berdua. Mungkin Jaemin mengambil dan mengajak pulang Hyejin bersamaan seperti hari kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi setelah sesaat mereka berdua menjadi sebuah hubungan resmi layak seperti aku dan Jeno. Dan mungkin Yerin, tengah pergi juga dengan Ren—katanya teman dekat, tapi mesra:’)

Sejenak mengalihkan atensiku kepada jalanan yang tampak mulai sepi berlalu. Menyisihkan anak sekolahan yang kalang kabut hendak pergi kerumah sebelum kelabu mengutuk malam. Membiarkan pertahanan awan kelabu yang tengah menggantung runtuh, lantas menjatuhkan ribuah air untuk turut menemaniku.

Aku jadi ingat suatu hari mengenai Jeno. Dimana aku dan Jeno terjebak dalam latar toko sepatu dibadai hujan. Aku tidak tahu sejak kapan dia turut berteduh bersamaku. Awalanya sangat canggung—sampai sebuah jaket tersampir pada bahuku. Tentu aku kaget, kukira dia mau melakukan sesuatu dalam kutip seperti hal macam-macam kepadaku sesenja itu. Aku lantas menampar wajahnya—yang aku lupa bagaimana reaksinya—tapi aku begitu mengingat ketika dia tersenyum dan memakai jaket abu-abu itu kembali pada bahuku yang sebelumnya ikut terjatuh ketika lenganku berulah dan berakhir telapak tangannku mengenai pipinya.

“ Kamu terlihat kedinginan, pakai saja jaketku.”

Sejak saat itu aku menyukai Lee Jeno.

Sampai aku nyaris terdiagnosis oleh kedua sahabatku bahwasanya tengah menginap penyakit menular atau semacam gila dadakan yang menyerang ketika seseorang tengah—

“ Jatuh cinta. Aku sangat jatuh cinta dengan Jeno.”

Aku menyatakan bahwa aku benar-benar menyukainya semenjak saat itu. Pun menyatakan bahwa aku adalah orang yang mungkin akan menjadi salah satu takdir untuk Jeno suatu saat. Aku juga menyatakan mungkin aku akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak. Aku benar-benar sudah gila.

Aku pernah sekali memberanikan diri untuk mendeklarasi perasaanku bahwa aku menyukainya dibalkon sekolah sesudah bel pulang berbunyi beberapa menit lalu. Saat itu aku melihat Jeno hampir memekik jika saja aku tidak langsung pergi dari tempat meninggalkannya begitu saja. Membuat matanya terbelalak ketika aku dengan lancang mengatakan—aku menyukaimu—dan berakhir dengan diriku yang malah pergi kelabakan meninggalkannya.

Namun terima kasih banyak Jeno, terima kasih telah membayar maluku dengan sebuah jawabannya yang bahkan aku tidak pernah sekalipun membayangkannya. Kata Jeno, dia juga mulai menyukaiku akhir-akhir ini.

.

.

.

“ Aku sekarang menjadi anggota Osis dimana aku akan menjadi begitu sibuk sehari-harinya.” Kata Jeno.

Aku hanya menggangguk paham atas ungkapannya barusan. Aku senang ketika bibirnya membentuk sebuah lengkung yang malah menjadi begitu manis ketika aku sekali lagi melihatnya. Ketika mulutnya berkolaborasi dengan senyum dan mengatakan bahwa dirinya diterima sebagai anggota Osis di sekolah, aku begitu senang. Kata Jeno, dia ingin jadi penegak kedisplinan sekolah, dasar banyak tingkah. Kadang aku jadi suka memikirkan delusi gila dimana Jeno akan selingkuh saking tenarnya, dan banyak deretan gadis yang mengantri untuknya. Aku juga kadang membayangkan bahwa Jeno—calon masa depan—seperti tengah pergi mencari nafkah dan jarang pulang sekaligus bertemu.

“ Tidak akan setiap hari kita dapat bertemu, bahkan mungkin akan menjadi jarang untuk pergi berdua seperti saat ini.,” Lantas aku terdiam. Aku senang dia jadi anggota Osis, tapi aku juga membenci dirinya yang disita oleh waktu organisasinya. Pun aku hanya sanggup mengangguk pasrah dihadapannya. Seperti bunga tangkai tebu yang rapuh. Aku sedikit menyesal turut senang ketika dia menjadi anggota Osis. Maafkan aku.

“ Cinta itu tentang kepercayaan ,,, ” aku mendongak setelah ungkapannya ditutup dengan suara seruputan secangkir kopi americano dari miliknya. Menjadi suara pengisi prolog diantara keheningan kami berdua berkolaborasi dengan detikan kelabu jam dinging yang tersedia. Mendadak rangkaian pertanyaan menjadi bergemul dipikiranku sesaat. Jeno hanya tersenyum tipis menanggapi diriku yang tengah dibuat penasaran. Seakan Jeno tau, dan tampaknya niat sekali untuk menggodaku—aku tau itu.

“ Jeno,jangan suka menggoda. Cepat katakan,” aku mencubit perutnya sebagai hukuman yang hanya ia hadiahi dengan kekehan pelan.

“ Cinta itu tentang kepercayaan, ketika sebuah hubungan terikat tali saling percaya antara ujung satu dengan ujung satunya, jangan pernah takut jika itu akan putus dan hilang.”

Jeno manis sekali jika seperti itu:’)

.

.

.

Tiba-tiba ponsel gengamku mematahkan memoriku mengenai Jeno barusan. Satu pesan tertera di layar homescreen.

“ Sedang dimana ? “—Jeno

“ Menunggu bus dihalte, kenapa Jenn ?”—Yoojung.

“ Aku ingin bertemu denganmu, bisa tidak ?”—Jeno.

“ Pasti habis kumpul rapat. Tidak usah saja Jenn, hampir malam. kKamu pasti capek,”—Yoojung.

“ Tapi aku lebih rindu sama kamu,” tiba-tiba sebuah tangan meraih punggungku. Aku tidak tahu siapa—dan hampir saja aku melayangkan sebuah tamparan lagi jika saja pemuda dihadapannku ini tidak segera menampakkan wajahnya dihadapannku. Tubuh aroma mint  ini begitu kuhapal sampai aku nyaris tercekat ketika menyadari ini. Wajah Jeno mengalihkan duaniku:’)

“ Jenn … sejak kapan kamu disini ? atau memang kebetulan  lewat ?” aku kelabakan seperti anak dituduh mencuri ayam tetangga. “ Aku sudah berdiri diseberang jalan selama setengah jam menunggumu menyadari keberadaan, tapi tidak sadar sama sekali.”

Aku terkekeh pelan, lantas mendaratkan kelima jariku pada surai hitam pekatnya yang terlihat sedikit lembab—mungkin efek celcius udara yang semakin turun.

“ Aku sangat merindukanmu, Jung. Aku sudah lama tidak melihat wajah kesalmu seperti menunggu bus tadi,” suara kekehan kecil lantas menyusul diantara kami berdua. Asal kalian tahu, Jeno itu memang orang yang paling jago dalam membuat raut muka kebencian terpahat dalam wajahku.

“ Wajahmu ketika berdiam tadi sangat menggelikan, kadang terlihat senyuman tipis, kadang bibirmu mengerucut, kadang menjadi datar, memikirkan apa?” aku terdiam sejenak. Aku sempat melihat guratan wajah Jeno yang mendadak jadi sedikit serius. Dalam kutip, mungkin dia ingin—

“ Kamu ingin tahu ?”

“ Tentu. Sepertinya kamu banyak pikiran sekali.”

Aku hanya tersenyum sembari melontarkan kekehan hitungan detik. Lantas mengandeng tangan Jeno yang masih terbalut seragam sekolahnya. Mengaitkannya erat sampai aku melihat wajah Jeno yang menjadi keheranan karena ulahku. Pun menjatuhkan beban kepalaku kepada lengannya yang hangat bak kue kukus panas yang barusaja turun dari perapian.

Aku tidak tahu awan kelabu senja ini menjadi begitu hangat saat ini.

“ Aku baru saja memikirkan hal-hal banyak yang begitu menyenangkan.”

“ Apa saja itu?”

“ Aku tidak akan memberi taukannya kepadamu, ini tentang hati seorang wanita, Jennyyy ~ “

“ Jangan menggodaku dengan nama anggota BLACKPINK, Im Yoojung=_=”

“ Jenyyyy ~~ “

Jeno dengan paksa meraih bahuku. Merapatkan spasi diantara kami dilatar toko senja ini. Memelukku sampai rasanya aku positif terdiagnosis gila.

.

.

.

Jeno benar, kalau kita saling percaya. Kita tidak akan pernah terputus sekalipun hubungan kami begitu berat sampai aku ingin selingkuh saja jika mengingatnya.

fin.

YEAHHH SPESYIAL BUAT HIMUL TERKASIH ({})
AKHIRNYA FF KEBUT MALAM JADI JUGA PADAHAL BESOK UTS MTK TERSELESAIKAN:”)
DEBUT FIC PAKEK JENO SAMA JOOYUNG /meskipus sedikit ragu, takut kalau Jeonghan-mu cemburu/ TAPI ITUNG-ITUNG AJA BUAT HADIAH HABEDE NYA MAREN’-‘)/
NGAK TAU KENAPA DIRIKU MALAH BISA MERAPALKAN RANGKAIAN KALIMAT YANG CERITANYA NYATUIN KAMU SAMA JENO, MUL ~
AKU SAMA JAEMIN AJA NGAK JELAS GIMANA BISA JADI SEBUAH HUBUNGAN:”v AKU MASIH MIKIR KERAS DAN MALAH PUNYA KAMU DULU UDAH ADA JALANNYA TAKDIRNYA:”V
AKU SAMA JAEMIN YANG TAKDIR MUBRAM AJA BELOM DIDEDIKASIKAN:”V
MAAFKAN BUAT JEONGHAN SUNBAE, KARENA BIKIN CAST YOOJUNG SAMA COWO LAIN BANG:’v YANG MAKSA SI YOOJUNG JUGA:”v /himul mlorok/
AKU BREBES MILI BISA-BISANYA NULIS JALAN CERITA KAMU SAMA JENO KO BISA JADI HUBUNGAN, SEDANGKAN HUBUNGANKU KARO YOONGI,WONWOO, SAMPE JAEMIN BELOM JADI SEGELINTIR KATA-KATA MUL:’v AKU ENGGAK RELA ~ /BODO YUD BODO/
BARU SADAR KALO PS.DARIKU BISA JADI CHAPTER:’v
ANYUNGG ~

Iklan

Penulis: Ayudia Jung

YOONGI'S

1 thought on “ME AND JENO – Ayudia Jung.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s