Sofa.

Sofa

8667788_orig.jpg

By Ayudia Jung

Cast with BTS’s Jungkook and OC
Genre Sad & Angst | Rate G
Leght Oneshoot – Songfict
“ As I wait for you “

.

.

.

I’m sitting alone on the sofa where you used to be

I couldn’t slepp a bit in case you came

Jungkook terdiam manis . Pikirannya bagai di hancurkan badai bersama hatinya yang mulai tersapu duka. Mencoba melatih diri menata seberantak hatinya yang retak tak menentu. Tak ada lagi yang harus ia perbuat . Lantas dengan sengaja dirinya mendudukan diri sendirian , di sofa .

Tepat sudah jarum jam berjalan mengitari angka untuk langkah sepuluh jam setelah sepulangnya pemuda jangkung itu. Sepuluh jam menjadi penikmat suara kelabu detika jam yang recok di keheningan ruang kepemilikan Jugkook.

Resah angin turut merusak suasana milik Jungkook. Membuat kelopak mata pemuda itu terus-terus terjaga bersama runtuhnya pertahanan awan kelabu diluar yang mulai menyusul. Membuat sebuah ritme acak yang sulit dimengerti Jungkook. Pun guntur dan kilatan turut hadir berlombaan menyambung-nyambung menemani Jungkook . Menemani dalam redupnya malam dengan seberkas cahaya api pada tungku perapian rumah Jungkook.

I’m just blankly staring at the front door

I try closing my eyes and covering my ears

But the memories come back to me

Will my heart stop if I hold in my hearts ?

Jungkook sesekali menutup lembut kedua kelopak matanya, membuat dunia gelapnya sendiri untuk sementara. Berharap kenangannya barusan tertinggal didunia ini dan sekali buka kelompak matanya berharap semuanya hanya buah tidurnya selama ini.

Parasnya juga tak luput dari amatan pintu rumahnya seksama, membuat imajinasi liar jikasaja wanita itu tiba-tiba membuka pintu lalu menguncupkan payungnya. Lantas dibalik paying basahnyanya terdapat pahatan senyum manis lebar kesukaan Jungkook. Jungkook menyukai senyum gadis itu sampai sekarang, sampai dimana , wanita itu—

“ Kumohon … “

Jungkook meraih surainya sendiri dan mengacaknya lagi . Rambutnya begitu tak tertata, tapi siapa yang peduli mengenai hal itu.

Jungkook juga tidak sekalipun lelah untuk kembali menutup telinganya untuk sekian kalinya. Menghindar suara ritme remuk kolaborasi angin, air, dan guntur di luar, Jungkook sampai bosan mendengarnya yang tak kunjung mengakhiri.

Maksud Jungkook, ia bosan mendengar ritme remuk yang seakan seperti rangkaian kalimat gadis itu yang terasa begitu menyakitkan didengar.

Only my longing for you comes back

I’m here, waiting for you

“ Kumohon kembalilah, aku menunggumu …”

Tangan Jungkook merambat menyentuh tiap pintalan benang yang menyusun menjadi sebuah kain pelapis Sofa  yang ia singgahi sekarang. Begitu lembut dan nyaman bagi Jungkook, ibaratnya sama persis seperti wanita yang begitu menyukai dan begitu sering duduk di Sofa ini disini bersama, omong-omong .

Berharap, hanya itu yang dapat Jungkook lakukan sampai saat ini.

Berharap, jika saja saat ini—

“ Jungkook ! “

Jungkook lantas menoleh pada pintu kusen ulin  beroles pewarna putih kotor itu. Sorot matanya tak pernah sekalipun kalut dari gadis perparas anggun dihadapannya. Seketika tertarik untuk memandangi gadis yang tengah sibuk menguncupkan payung biru tua yang diikuti puluhan tetes air yang jatuh membasahi petak keramik rumahnya .

“ Aku datang karena merindukanmu,”

Jungkook menyerngitkan sebelah alisnya. Menatap bingung pahatan garis wajah sempurna gadis yang tengah berada dihadapannya. Senyuman gadis itu tidak ada tandingan. Terlihat begitu manis diimbuhi dengan sentuhan mata belok gadis itu. Tampak cantik dimata Jungkook sampai saat ini, sampai Jungkook tidak bias mencari penggantinya.

“ Belum tidur ? ”

Gadis itu lantas mengayunkan langkah kakinya pada sofa yang tengah dipersinggah Jungkook. Gadis itu entah darimana datangnya. Sepatunya yang tersampir rak sepatu pun terlihat membawa beberapa milliliter air yang jatuh ikut berbaur bersama basah paying barusan. Rambut panjangnya pun terlihat basah sekilat—basah hampir kering.

“ Aku benar-benar cemas karenamu, aku meneleponmu , aku mengirim pesan , aku menulis note dilacimu , tapi tidak ada satupun yang membuatku merasa tenang.”

Gadis itu lantas menjatuhkan diri pada sisi Jungkook. Mengambil sisi kosong pada sofa yang tengah dikuasi Jungkook beberapa waktu lalu seharian ini.

Jungkook diam . Ini seperti mimpi baginya .

“ Aku lelah karenamu, aku seharian mencarimu. ”

Wanita itu menghela nafas panjangnya seakan memperlihatkan Jungkook seberapa lelahnya gadis itu seharian. Memberi gestur lelah dari lekukan wajahnya yang begitu menyedihkan jika dilihat sekali lagi.

Apa seharian ini begitu melelahkan—

“ Omong-omong, aku pasti akan sangat merindukan sofa empuk ini. Duduk berdua denganmu menunggu serial sinetron , bergelayut manja dibahumu untuk tidur siang di sofamu. Aku sangat heran, atau ini hanya perasaanku saja. Sofa  ini berlipat semakin nyaman membuatku enggan pergi untuk waktu sekarang. ”

Jungkook menolehkan kepalanya pada paras gadis disampingnya yang tengah terdiam untuk beberapa saat . Tersirat sedih walau hanya terealisasi dengan lekukan wajah yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

“ Aku tidak masalah menunggumu seberapa lama, yang penting kamu—

Ucapan gadis itu patah ketika Jungkook untuk pertama kalinya membuka suara.

“ Maaf ya. ”

Jungkook merapal dengan lirih. Tubuhnya lantas menysul dengan cepat memeluk gadis yang tengah duduk disampingnya. Tangannya mengerat kuat pada punggung kecil gadis itu. Seakan memberi sebuah hempasan hangat pengusir dingin malam ini. Tangganya begitu erat pada punggung gadis itu, seperti tak ingin jatuh jika saja Jungkook lelah menggapai gadis itu.

Dia begitu mencinta sehingga tak ingin sakit.

“ Tidak masalah, Jung, yang terpenting, sekarang aku merasa tenang karena dirimu tidak diculik, atau sejenisnya. ”

Wanita itu terkekeh dibalik suara recokan hujan yang mereda dan beralih membuat dentingan pada atap rumah Jungkook . Hujannya sedikit reda, seperti Jungkook yang sekarang sedikit lega setelah mengutarakan maaf yang sejujurnya sangat terlambat untuk mengatakannya .

So far from my side, You’re so far away

I’m still not over you, only dust remains

As I wait for you

I can’t slepp, all night long

Until the end of time

No matter how much I try emptying you

.

.

.

.

Jungkook membuka matanya perlahan dengan berat. Kepalanya terserang pening mendadak membuat dirinya tak dapat sejelas seperti biasa hanya untuk menatap ruangan yang monoton. Mata teduhnya otomatis menyapu pandang tiap sudut rumahnya— terutama, pada pintunya kusam putih perak .

Malam itu …

Payung itu menyender disudut sebelah pintu. Payung yang sama milik gadis itu.

Matanya tidak henti mengamat payung yang bertengger manis yang masih terlihat basah bagi Jungkook, atau mungkin ini karena mata Jungkook benar-benar berkaca dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya .

Tiba-tiba ponselnya bergetar disaku seragam sekolahnya yang masih melekat ditubuhnya.

Tangannya berkutik membuka kunci lalu membuka pesan,

From : Unknow

“ Datang untuk terakhir kali barangkali ? "

Jungkook menarik nafas paling dalam sesanggupnya. Matanya berkedip, dan detik itu juga air matanya bersama jatuh runtuh . Menjebol pertahanan Jungkook yang ia buat sekuat hatinya. Hal yang tak ditunggu dan tak diinginkan akhirnya datang. Jungkook benci, Jungkook bodoh, Jungkook menyesal, mengapa saat itu—

-Flashback-

“ Jungkook !!!!! Jangan lari, ini aku bawakan payung untukmu “

Yoorim berlari menegejar langkah Jungkook yang semakin menjauh . Langkahnya dikejar ribuan air yang mendadak jatuh dari langit . Kali ini, hatinya lebih cemas dengan si pemuda yang nekat menerjang air karena takut akan keterlambatannya menghampiri rapat anggota team basket .

“ JUNGKOOK ! BERHENTILAH ! ”

“ JUNGKOOK ! KUMOHON …. ”

“ JUNGKOOK ! TUNGGU AKU SEBENTAR SAJA. ”

“ JUNGKOOK ! ”

Jungkook cepat menoleh kebelakang merasa kesal terpanggil-panggil .

Rasa kesal dan bosannya dengan gadis yang tengah memanggilnya itu lebih besar. Maafkan Jungkook, ia janji untuk terakhir ini ia akan mengabaikan gadis itu, mungkin saja Yoorim akan menepi dan berhenti bertindak bodoh memanggil namanya.

Sebaliknya, rasa cemas gadis begitu besar dan tak tertanding dengan sifat yang ia miliki lainnya . Tidak ada alasan untuknya, demi apapun untuk Jungkook.

“Aku membawakan payung untukmu , Jung—

BRAK. Sebuah mobil tepat menghantam gadis itu ditengah jalan . Mengakhiri kata tampa tuntas yang mengganjal di rungu Jungkook .

Gadis itu—kekasih Jungkook, tertabrak mobil pada akhirnya .

-flashback end-

Nampak terlihat nyata, sampai Jungkook bingung untuk membedakaanya. Bincangan keduanya semalam benar-benar bukan nampak seperti bunga tidurnya, pikir Jungkook. Kehadiran gadis itu pada bunga tidurnya semalam, sebagai ucapan selamat tinggal terakhir kalinya.

Gadis itu sudah tiada, kan ?

-FIN-

 

Huhuhuhuhu :’v tolong tabokin author karena asal ngawur nulis kek amberegul gini duh ~
tolong maafkan segala bentuk semacam ketypoan atau semacam kata-kata tak dimengerti.

Maafkan juga covernya alakadarnya cuma ambil pot yang ada:’v males buka photoshop:’v
covernya dari Fansite : Little Golden.

Tolong berikan banyak cinta ❤ /hoek/

Ff dibuat pada; 25 August 2015

Ayudia Jung ~

Iklan

Penulis: Ayudia Jung

YOONGI'S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s