Beetween Love and Death—Part.3

62 copy.png

Beetween Love and Death

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Oh Sehun | Kiyomizu Hanna

【Other Cast】

【Chanyeol Park | Kim Junmyeon | Kiyomizu Tzuyu】

|More|

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance,

Action, Friendship, Family」

『PG 16』

ǁJapan| and ǁKorea|

「Chaptered」

Without you know, love can kill yourself.


Pagi harinya, Baekhyun dibuat gila dengan kepergian Hanna yang benar-benar mendadak. Bahkan pria Byun itu tak tahu kapan gadis Kiyomizu itu pergi. Sudah berulang kali Baekhyun menelpon ponselnya, namun tak kunjung aktif. Ingin sekali Baekhyun mengunjungi kantor polisi jikalau peraturan dua kali dua puluh empat jam pelaporan tak diterapkan.

Baekhyun sedari tadi hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Pasalnya, kemarin Baekhyun mencium Hanna tanpa permisi oleh sang empunya. Bahkan Baekhyun masih sempat mengucapkan kalimat sukanya, padahal Hanna belum tidur. Seperti pecundang yang lari dari kenyataan, Baekhyun sangat menyesalinya.

“Kenapa kau tak mengangkatnya?!” pekik Baekhyun sembari melempar Samsung 7 Edge-nya pada dinding. Tak memerdulikan semua kenangannya yang tersimpan di dalam ponsel lima inci itu. Raga pria itu sudah didominasi oleh amarah, hingga kerja akalnya tak akan bisa mengalahkan emosi yang sedang mengganggu.

Tangan Baekhyun hendak memukul cermin di hadapannya jika saja bel apartemennya tak berdering. Menjerit hendak meminta atensi sang pemilik bangunan agar lantas membukakan pintu. Baekhyun sebenarnya ingin sekali memukul pria di hadapannya yang datang, lalu seenaknya masuk sembari memanggil Hanna. Pria itu bahkan mengucapkan beberapa kalimat berbahasa Korea yang membuat Baekhyun menyernyit. Sebenarnya, apa yang terjadi?

“Di mana Hanna?!” tanya pria bermarga Oh itu dengan nada tinggi. Baekhyun pun membutuhkan waktu lima puluh detik untuk mencerna kalimat tanya yang diajukan oleh dosennya. Untuk apa dosennya itu mencari Hanna?

Eobsseoyo,” Jawab Baekhyun. Tak bisa menahan gejolak emosi, tangan kekar Sehun menarik kerah Baekhyun agar lekas mendapatkan atensi lebih. Mata coklat milik pria Oh itu nampak sekali berkilat. Seolah hendak membunuh Baekhyun dengan sekali tatap. Namun, yang ditatap justru bergeming. “Hanbeondo, Hanna eoddiseo?!” tanyanya lagi dengan menekankan tiga silabel terakhir.

Mau ditanya dua puluh ribu kali pun Baekhyun tetap akan menjawab dengan kalimat yang sama. Karena pria Byun itu tak berbohong. Dirinya sendiri pun juga dibuat bingung dengan kelakuan gadis itu yang katanya membutuhkan Baekhyun, namun keesokan harinya meninggalkannya tanpa kabar.

“Apa hubunganmu dengan Hanna, sensei?”

Baekhyun memberanikan diri bertanya ketika tangan kekar Sehun sudah melemah. Melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja putih Baekhyun. Yang ditanya mendongak, lalu menjawab tanpa ragu. “Dia kekasihku.”

Didetik berikutnya, baik Sehun maupun Baekhyun mencelos. Sehun kembali mencerna enam silabel yang terangkai menjadi satu kalimat jawaban pun mengajaknya bergelut dengan masa lalu. Dimana Hanna dengan yakinya memutuskan hubungan keduanya, lalu pergi tanpa kabar seperti ini. Dan ketika Sehun menyuruh bawahannya melacak keberadaan Hanna, gadis itu ada di apartemen Baekhyun. Kenapa hidupnya selalu memermainkan hatinya?

Demikian pun Baekhyun. Sekarang ia tahu siapa pria yang dimaksud Hanna kemarin malam dalam percakapan terakhir keduanya. Ternyata, pria itu adalah sensei-nya sendiri—Oh Sehun. Padahal, kemarin Hanna menyatakan bahwa hatinya sudah tak lagi kosong, namun Baekhyun-lah yang bisa memahami. Sial beribu sial! Baekhyun mengumpat dalam hati. Kenapa Hanna memermainkan hatinya?

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Enggan membuka percakapan lebih lanjut. Agaknya tak lagi nyaman dengan keheningan yang mendominasi, Sehun pun lekas mengambil langkah pergi. Sayangnya, Baekhyun lebih dulu menahannya. Bukankah sudah kubilang, kuriositas seorang Byun Baekhyun itu tinggi? Jadi, jika itu semakin menumpuk di dalam otaknya, maka kantung matanya akan semakin bertambah.

“Aku ingin bicara denganmu, Sehun-ssi.

.

.

.

373133.jpg

Korea Selatan. Sebuah negara Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Berbatasan dengan Korea Utara yang sudah menjadi rivalnya sejak lama, lantas melalukan gencatan senjata demi perdamaian seluruh umat. Menjadi Korea Selatan setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II. Di pimpin oleh Park Geun Hye sebagai presiden, dan juga Hwang Kyo Ahn sebagai perdana menteri (2016).

Di sinilah destinasi Hanna untuk menjadikan negara itu sebagai pelarian. Meninggalkan semua masalah yang telah terjadi di negeri sakura tanpa bisa ia kendalikan, lantas menghirup udara malam berkat kadar oksigen dalam jantungnya menipis. Dadanya masih sesak mengingat semuanya tentang Sehun. Pria itu brengsek, suka memermainkan perasaannya tanpa bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Untuk kesekian kalinya, Hanna menghela napas. Ia sudah muak dengan kisah cinta berbelit yang tak berujung seperti hubungannya dengan Sehun. Dan sekali lagi, Hanna tak merasa ada kesalah pahaman di sini. Karena ia memang sudah merencanakan kandasnya hubungan keduanya setelah operasi terakhir. Ia sudah lelah dipermainkan.

Membuat jejak tak kasat mata di pinggir jalan kota Seoul, Hanna menikmati kesendiriannya. Ia cukup berterima kasih dengan Tuhan yang sudah menguatkan imannya agar tak terjerumus dengan hal tabu dalam masyarakat umum, namun tidak untuk gangster.

Ia sebenarnya juga berterima kasih dalam diam kepada ayahnya. Pria baik itu mau mengabulkan semua keinginannya. Meminta dipindah tugaskan, bekerja di salah satu rumah sakit elit yang ada di Seoul, dan memiliki rekening yang berisi jutaan dolar—hanya untuknya. Namun, ia juga tahu bagaimana cara balas budi. Membunuh semua target yang sudah ditetapkan, hingga melenyapkannya tanpa jejak. Dan hanya sendiri.

Enggan memikirkan semua masalah yang membebani pikirannya, Hanna lekas kembali menuju apartemennya. Menekan beberapa kali untuk memasukkan rangkaian password yang sudah dibuatnya, lalu menghempaskan diri menuju tempat tidurnya. Gadis Kiyomizu itu hanya tidur tiga puluh menit sebelum kembali beraktivitas.

Hanna memang mempunyai gangguan tidur—sleep disorder—yang sudah dideritanya sejak umur lima belas tahun. Sebagai ganti tidur lima setengah jam yang terlewatkan di malam hari, ia menebusnya ketika jam pelajaran. Hanna tak akan takut dengan semua hukuman yang ia lewati. Toh, semua fasilitas yang ia dapatkan dibiayai oleh ayahnya—Kiyomizu Suzuki.

Dan sialnya, Hanna selalu rangking pertama. Mengejutkan seluruh antero sekolah hingga menjadi viral di kalangan murid sebayanya. Namun, Hanna tak mau besar kepala. Gadis itu hanya diam tanpa memerdulikan semua berita hangat tentangnya.

Mengalihkan semua pusat pikirannya pada sebuah buku tebal di hadapannya, gadis itu siap mempelajari semua materi  yang harus ia kuasai. Tak lebih dari empat jam, ia akan menjadi seorang dokter bedah yang berganti nama menjadi Lee Hanna. Seorang gadis yang lahir di Busan, dengan latar belakang kedua orang tua seorang pebisnis. Menjadi alumni di Seoul University, lalu menjadi lulusan terbaik. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa demi membangun persembunyian yang aman, walau ia tahu Sehun tak akan tinggal diam.

Oh Sehun

Lagi-lagi pria itu yang ada di pikirannya. Kenapa dari sekian banyak pria hanya Oh Sehun yang ada di otak cerdasnya? Well, Sehun sudah berhasil membuat Hanna jatuh cinta dengan segala kekurangan pria itu.

.

.

.

“Sejak kapan kau mengenal Hanna, Ssaem?”

“Kau tak bisa bahasa jepang?”

“Tinggal jawab apa susahnya?!”

“Kenapa kau mendikteku?!”

Baiklah. Ini semua salah Baekhyun. Awalnya pria Byun itu ingin berbicara empat mata sebagai laki-laki yang sama-sama menyukai Hanna. Atau lebih tepatnya, Baekhyun ingin mengucapkan selamat dan juga berharap Sehun akan menjaga Hanna. Namun, yang terjadi justru keributan di setiap percakapan.

Baik Sehun maupun Baekhyun akhirnya menghela napasnya kasar. Emosi masih kentara hingga saat ini. Mengalahkan segala ego dalam diri masing-masing, Baekhyun akhirnya kembali membuka suara. Menambah amarah yang yang baru saja dipadamkan demi terealisasinya harapan. “Aku menyukai Hanna,”

Delapan silabel itu membuat alis Sehun bertaut. Tangannya bahkan sudah terkepal di sisi tubuh. Matanya seolah bisa menghunus Baekhyun dalam sekali tatap. Kenapa pria itu berani sekali mengatakannya?!

Kedua tangan Sehun tergerak menuju kerah kemeja Baekhyun. Mencengkeramnya hingga sang empu mendongak. “Beraninya kau mengatakan itu di hadapanku, Brengsek!”

Baekhyun hanya terdiam. Ia bahkan masih sempat mengulas segaris senyum di bibir tipisnya. “Tapi, sebanyak apapun aku mencintai Hanna, nyatanya hanya kau yang ada di hatinya. Kemarin, ia bahkan masih menggumamkan namamu saat tidur.” Baekhyun menjelaskan. Tangan Sehun perlahan mengendur. Menciptakan spasi hingga pria Oh itu bisa menatap iris coklat Baekhyun—lebih tepatnya mengintimidasi untuk mendapat alasan yang lebih spesifik.

“Apa maksudmu?”

“Untuk pertama kalinya ia terbuka mengenai pria yang ia cintai. Walaupun Hanna tak sadar saat itu, ia selalu menggumamkan namamu. Awalnya kupikir karena kau adalah guru populer di kampus. Nyatanya, kalian justru sudah menjalin hubungan.”

Sehun hampir terjungkal jikalau kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat badan. Semua fakta yang baru ia dengar ini membuatnya ingin bunuh diri. Ia hanya tak percaya kalau Hanna bisa menyatakan perasaan sukanya terhadap Sehun—padahal gadis itu kelewat angkuh dan dingin.

“Aku hanya ingin mengingatkan,” Baekhyun kembali membuka percakapan. “Dia gadis dingin yang mudah disukai orang lain. Jadi, segera cari dia dan jangan menyakitinya lagi. Aku mengatakan ini karena aku memberimu kesempatan sebagai pria yang dicintai Hanna.” Pria Byun itu berucap sembari bangkit dari sofa. Mengikis jarak, lantas meraih pundak lebar Sehun. Alih-alih marah ataupun kembali menciptakan keributan, segaris senyum Sehun berikan pada pria Byun itu.

“Terima kasih telah memberikanku kepercayaan, tapi nilaimu tetap aku kurangi karena menggunakan banmal.

Baekhyun mengumpat dalam hati. Mengapa sensei-nya itu tak mau memberi toleransi di saat yang genting seperti sekarang?!

.

.

.

Pagi ini Hanna sudah siap dengan casual style khas-nya. Kemeja tipis berwarna putih dipadu celana hitam panjang hingga menutupi highless-nya. Nampak cantik dan anggun untuk kesan pertama setelah melihat. Namun, tampak dingin setelah berkenalan. Terlalu beruntung menduduki jabatan ahli bedah kala pertama datang.

5fbe851adf8a4496bfa6fe3b3012cef5.jpg

Hanna pun hanya menutup mata dan telinga. Enggan mendengarkan bisik-bisik di luar sana yang berpendapat negatif tentangnya. Ia tak peduli tentang siapapun yang hanya akan menuruti perintahnya, yang pasti sekarang ia hanya ingin duduk tenang. Membayar hutang tidur malam yang sebelumnya belum terpenuhi.

Namun, belum sempat terealisasi, pintu ruangannya sudah diketuk beberapa kali. Bahkan dengan tak sopannya, seorang pria paruh baya masuk tanpa diizinkan terlebih dahulu. “Apa Saya mengganggu, Lee Seonsaengnim?”

Tentu saja! Pekik Hanna dalam hati. Kelopak matanya bahkan belum terpejam selama satu menit, dan sekarang kembali terbuka. “Apa ada masalah?” tanya Hanna tanpa basa-basi. Cukup sudah menguji kesabarannya, karena bisa saja FN 57 kesayangannya terarah menuju kepala pria paruh baya itu.

“Ini daftar pasien anda, Lee Seonsaengnim.” Ucapnya sembari mengulurkan sebuah map file tipis ke arah Hanna. “Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa memanggil saya—”

“Terima kasih atas bantuannya, Kang Seonsaengnim.” Sahut Hanna cepat. Enggan berlam-lama lagi membuka peluang percakapan. Ia tak mau membuang suara soprannya hanya untuk menanggapi hal yang tak berguna. Ia sedang tidak mau diganggu. Apakah Hanna harus menuliskannya di papan pengumuman rumah sakit?

Karena rasa kantuk sudah tak mau datang kembali setelah diganggu, Hanna akhirnya memilih untuk menatap jadwalnya yang tak terlalu padat—untuk hari ini. Empat jadwal operasi dengan masalah yang berbeda-beda. Dan dijadwal teratasnya, ia harus mendahulukan pasien yang baru saja ditransfer dari UGD. Crushed Chest.

.

Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, Hanna sudah siap dengan pakaian khusus yang hanya digunakan oleh tim ahli bedah. Sebelumnya, ia mengingatkan beberapa poin penting yang harus diketahui tim-nya sebelum melakukan operasi. “Fraktur ini termasuk majemuk. Segmen dinding dada yang lepas dan tidak tersangga akibat fraktur akan terhisap ke dalam pada inspirasi dan muncul ke luar pada ekspirasi. Aku tak perlu menjelaskan lebih detail, ‘kan?”

Ne,” Jawab semua serentak. Setelah dirasa siap, barulah Hanna meminta pisau bedah pada asistennya. Membuka trakea dengan memotong cincin tulang rawan. Memasukkan sebuah pipa plastik pada trakea yang sudah dihubungkan dengan alat ventilator yang secara otomatis memompa paru-paru. Tak lama kemudian, detak jantung dan juga pernapasan pasien Hanna kembali normal.

Sebenarnya, dibalik keterdiaman semua orang di tim Hanna karena mereka begitu takjub. Gadis itu bisa menyelesaikan tracheostomi dalam waktu lima menit. Bahkan untuk ahli bedah yang kini sudah pensiun pun tak bisa melakukannya. Dibalik dinginnya gadis itu, tersimpan sejuta bakat yang bisa membuat sejumlah orang mampu berdecak kagum.

“Kalian bisa melanjutkannya tanpaku, ‘kan?” tanya Hanna. Semua mengangguk—membenarkan. Hanna akhirnya menundukkan kepala sebentar—sebagai rasa hormat—kemudian undur diri terlebih dahulu. Menuju ruang ganti, lalu membuang pakaian khas ruang operasinya. Mendesah berat akibat matanya yang tak mau diajak kompromi. Tadi ketika ada waktu luang saja susah sekali tidur. Tapi, disaat genting seperti ini, mengapa kelopak matanya ingin rasanya tertutup? Hanna mulai gila menghadapinya.

.

.

.

Tzuyu tak bisa berbohong tentang keterkejutannya mengenai Hanna yang pergi entah kemana. Sehun baru saja memberitahukan semuanya. Gadis Kiyomizu itu hanya bisa memijat pelipisnya. Sejahat-jahatnya Tzuyu terhadap Hanna—adiknya—ia tak pernah benar-benar berharap gadis itu enyah dari hadapannya. “Apa kau tidak bohong? Hanna tidak mungkin pergi tanpa sepengetahuanmu.” Ujar Tzuyu sarkastik.

Sehun menghela napas—untuk yang kesekian kalinya—lagi. Tzuyu sedari tadi tak ada habis-habisnya mencerca Sehun dengan kalimat sarkastik yang keluar tanpa dikontrol. “Demi Tuhan! Aku tak tahu dimana Hanna! Dia bahkan membuang ponselnya di jalan raya.” Ujarnya sembari meletakkan ponsel Samsung S7 Edge yang nampak beberapa gores berkat ulah sang pemilik. Mereka hanya belum tahu milik Baekhyun yang hancur menjadi kepingan karena Hanna.

She’s crazy.

Itu sebenarnya satu kalimat umpatan. Namun, karena nada Tzuyu yang kelewat datar, kalimat itu terdengar seperti pernyataan yang memang benar adanya. Jangan lupa menambahkan keras kepala. Karena, sekali Hanna menentukan keputusan, maka tak akan bisa diganggu gugat.

“Dia hanya tak pernah mengetahui kebenarannya.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu semuanya,” Sehun menimpali. Suara bass itu menggema sekali lagi untuk menambahkan. “Kiyomizu Hanna bukanlah anak dari Kiyomizu Suzuki dan adik dari Kiyomizu Tzuyu. Dia hanyalah gadis yang dibuang ibunya dipinggir jalan, lalu diangkat menjadi anak oleh ayahmu.”

Tzuyu tercekat. Bagaimana Sehun bisa tahu semua tentang masalah keluarganya? Gadis itu hanya membulatkan mata samar sebagai tanda terkejut. “Ayah tidak mungkin memberitahumu!”

“Memang benar,” sahut Sehun. Sehun itu pintar. Dan itu kartu AS-nya. Oleh karena itu, ia akan menggunakannya sekarang. Karena, tanpa Kiyomizu Suzuki, Hanna tidak mungkin bisa kabur dengan serapi itu. Hanya pria paruh baya itu yang mempunyai koneksi tanpa diketahui. “Lalu, kau akan menggunakannya untuk mengancam ayahku?”

“Tidak,” jawab Sehun lantang. “Aku akan menggunakannya untuk mengancammu.” Pernyataan itu membuat tangan Tzuyu makin terkepal dengan sendirinya. “Apa kau yakin aku akan terpengaruh dengan semua ancamanmu itu?” tanya Tzuyu dengan nada menantang. Sehun merangsek maju. Membiarkan sisi meja menjadi pembatas. “Ya. Karena aku tahu, kau tak membenci Hanna seperti sikap yang kau tunjukkan padanya.”

“Kau pikir, dengan kembalinya kau pada Hanna, adikku akan menerimanya?”

“Untuk itu, kau tidak perlu memikirkannya. Karena, aku akan selalu memerjuangkannya hingga akhir hayatku.”

.

.

.

Operasi kedua Hanna akhirnya selesai. Setelah sekian lama berkutat pada organ manusia yang sakit itu, ia akhirnya bisa bernapas lega. Bahkan gadis itu masih bisa berjalan-jalan mencari arah menuju rooftop. Ia hanya ingin tempat itu menjadi destinasinya jika terlalu kelelahan dan butuh penyegaran.

Dalam perjalanannya, sebuah pemandangan berhasil menarik atensi. Entah sejak kapan, gadis itu tiba di UGD. Bahkan dengan kuriositasnya yang tinggi berhasil membuat Hanna yang tak pernah peduli menjadi ingin tahu. Segerombolan orang berkumpul di depan ruang operasi kecil yang disiapkan untuk pertolongan gawat darurat.

Ia hampir memekik kala tubuhnya di dorong oleh seorang dokter yang memaksakan kehendak untuk membelah keramaian. Menjadi sok jagoan—dimata Hanna—dengan pekikan suara bass yang menggema. Hingga ia sendiri pun bisa mendengar masalah yang terjadi.

“Bagaimana bisa ahli jantung berlibur di saat seperti ini!”

Baiklah, sekarang Hanna tahu. UGD menjadi sibuk berkali-kali lipat berkat seorang dokter yang tak punya otak dan hanya tahu gaji tanpa tahu usaha. Mengandalkan embel-embel dokter, walau jiwanya hanya sebatang lidi yang tak ada gunanya.

Hatinya tiba-tiba saja tergerak. Maju kedepan tanpa menggunakan jas kebanggaan. Mengucapkan lima silabel yang membuat kebisingan itu terhenti dalam satu detik. “Catatan medis.” Pintanya. Pria yang tadinya hanya bisa memekik, kini tangannya beralih mencengkeram lengan Hanna. Menghentikan semua drama dan menganggap bahwa gadis itu terkena Skizofrenia. “Pergi,” ujar pria itu dengan nada datar, namun menekankan di setiap silabel.

“Bagaimana keadaannya?”

Perawat muda yang ada di sebelahnya terbelalak setelah mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Hanna. “D-dia—”

“Itu bukan urusanmu!” pekik pria itu dengan wajah merah padam kentara menahan amarah. Hanna enggan menggubris. Ia bahkan sempat melemparkan tatapan tajam sebelum akhirnya merebut catatan medis dari perawat itu. Membacanya dengan seksama sebelum akhirnya menyimpulkan. “Empyema Thoracis” ujarnya.

Semua orang kembali terdiam. “Kita akan memulainya dengan dekortikasi terlebih dahulu. Setelah itu—”

“Jangan mendikteku!”

“Kalau begitu lakukan sekarang! Bukankah kau dokter? Bagaimana kau hanya bisa diam seperti itu!”

.

.

.

Kepindahan pria Oh itu kembali ke kampung halaman bukan tanpa sebab. Entah kenapa, ia ingin sekali menemui ibunya yang sudah lama dirawat di sebuah rumah sakit mahal di Seoul. Bukan karena Sehun banyak uang, namun Sehun pintar memanfaatkan situasi. Dimana keberangkatan Sehun menuju Kyoto bukan tanpa permintaan. Pria itu menginginkan agar ibunya dirawat di sebuah rumah sakit elit.

Eomma,” panggilnya pelan. Setelah sampai di Incheon airport, Sehun segera mengunjungi sang ibu. Membelai telapak tangan yang mulai berkerut itu. Wanita paru baya dihadapannya masih enggan membuka mata. Sehun pun baru dengar dari perawat yang mengantarnya menuju ruangan sang ibu, kalau wanita itu baru saja dioperasi.

Keadannya masih lemah, namun Sehun tak mau terbuai dengan keadaan. Ia harus kuat untuk ibunya. Ia harus tersenyum untuk ibunya. Dan itu semua Sehun lakukan untuk ibunya. Karena di dunia ini, hanya dua wanita yang membuatnya bertahan hidup. Ny, Oh dan juga Kiyomizu Hanna.

Mengingat gadis itu membuat Sehun tersenyum miris. “Eomma,” panggilnya sekali lagi. Ia hendak memulai percakapan monolognya di hadapan sang ibu. “Aku punya calon istri sekarang,” ujarnya bangga. Namun terselip beberapa nada sedih yang membuat kelopak matanya hendak basah. Tergenang air mata yang akan mengalir jika saja Pria Oh itu tak bisa menahan. “She’s really beautiful, like you.” Tambahnya.

Sehun menunduk demi menahan semua sakit yang tak tertahankan. Matanya terpejam, tak kuasa menahan butiran liquid yang siap membasahi pipi. Membentuk genangan luka yang siap menghantui hingga mati. Bahkan ia kesulitan untuk mengucapkan maaf bagi kedua orang tercintanya. Ibunya masih menghadapi masa koma, dan Hanna kini hilang entah kemana. Dibalik kesuksesannya, tersimpan berjuta sakit yang tak diungkapkan lewat rangkain silabel.

“Tapi, aku menyakitinya.” Ia kembali bersuara. Suara bariton kebanggaanya menjadi bergetar kala mengucapkan kalimat terakhir curahan hatinya. Agaknya kalimat itulah yang menyiksa batin. Sehun memang patut disalahkan. Karena ia yang sok jagoan mengungkap kebenaran dengan mendatangkan semua saksi ke hotel, membuat siapapun salah menyimpukan. Namun, hanya tempat itu satu-satunya yang tak bisa dimata-matai oleh Black Ocean.

Semuanya memang begitu rumit. Sehun hanya ingin semua masalahnya berakhir. Ia hanya ingin hidup tenang dengan skenario impian yang telah ia pikirkan sedari dulu. Bahkan ia sempat merangkai prolog dengan menghubungkan Miranda Kerr menjadi peran utamanya. Sayangnya, peran utama tak selalu sempurna dan tak pernah sesuai rencana.

Sehun akhirnya undur diri, tak mau mengganggu ketenangan tidur sang ibu yang maih betah beristirahat. “Eomma, jaljayo.” Ucap Sehun setelah mengecup kening sang ibu. Melukiskan segaris senyum, walau sederet luka terlalu nampak di wajah dewanya. Ia segera merajut jejak di petakan ubin dengan pelan. Menutup pintu dengan pelan, dan ingin memekik dengan pelan. Masalahnya, sejak kapan pekikkan menjadi pelan?

Hanya Sehun yang bisa. Karena, nampak jelas dengan iris coklat pekat miliknya, bisa ia lihat sosok Hanna dengan beberapa bercak darah di kemeja. Berjalan tanpa peduli sekitar. Raut dinginnya tak mau berubah. Namun, dengan bodohnya dan kolotnya, Sehun masih saja terdiam. Enggan mengais jarak demi merengkuh sang pujaan hati. Tetap mencerna sosoknya. Otaknya bahkan masih sempat bertanya dalam hati, benarkah itu Hanna? Kiyomizu Hanna?

Mau dikejar pun tak akan bisa. Pasalnya, Sehun sudah terlambat. Hingga akhirnya ia memilih bertanya pada resepsionis UGD. “Apakah di sini ada dokter yang bernama Kiyomizu Hanna?” tanyanya dengan napas yang masih tersenggal-senggal. Bukannya menjawab, salah satu perawat yang berjaga di sana justru mengerjap beberapa kali. Apakah dia jelmaan dewa?

Jeogiyo,” ucap Sehun memecahkan seluruh delusi liar yang hinggap di otak sang perawat. Mengenyahkan wajah seksi pria dihadapannya itu, sang perawat menggeleng. Namun masih dengan kelopak mata yang berbinar binar. Dalam hati, bisakah ia memiliki pria itu sekarang juga? Itu hanya ada di mimpi terliarmu, noona.

Dengan segenap kekecewaan, Sehun akhirnya melenggang pergi. Mencoba mencari kembali walau hasilnya masih tetap nihil. “Dimana kau, Hanna?”

.

.

.

Sekarang Hanna merasakan bagaimana menjadi Dokter tanpa melewati tahap intern. Gadis itu bahkan mengumpat dengan terang-terangan setelah operasi itu selesai. Pasalnya, Hanna ditarik ke ruangan pria yang tak berperikemanusiaan itu. Membentak Hanna dengan sesuka hati, lalu mengucapkan sumpah serapah tanpa Hanna ketahui. Okay, Hanna memang bisa bahasa korea karena Sehun, namun pria Oh itu tak pernah mengajari umpatan dalam bahasa Korea.

Selain umpatan itu, Hanna bisa mengerti kalimat yang lain. Seperti yang masih terngiang dalam benak Hanna. “Hey, kau wanita gila! Bagaimana bisa kau membuat tindakan sesuka hatimu, huh!”

Bahkan nadanya yang sarkastik itu, Hanna masih bisa mengutipnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Untuk pertama kalinya Hanna bisa memikirkan hal seperti itu dalam hidupnya. Karena, sebelum itu Hanna hanya berdiam diri. Setelah itu masalahnya akan selesai. Siapa lagi jika bukan karena sang ayah yang berkuasa banyak?

Pikiran-pikiran itu segera Hanna enyahkan. Ia akhirnya memilih menghirup udara segar di luar. Mengambil jaket Skaters hitam miliknya, lantas membuka pintu apartemen. Menapakkan kakinya di trotoar kota Seoul yang dingin. Menyapa wajah putih nan dinginnya dengan lembut. Menerpa surai coklatnya yang tak terikat oleh ikat rambut.

Di belakangnya, nampak sebuah bayangan perjalan pelan mengikuti ritme langkah Hanna. Menikmati pemadangan surga yang sudah lama tak ia temui. Terlalu rindu namun takut untuk kembali menyakiti. Hingga akhirnya hanya bisa mengikuti tanpa perlu menampakkan diri.

Jika kalian ingin tahu, sebenarnya Hanna menyadari sosok dibelakangnya. Ia sudah menyadari sejak kepulangannya dari rumah sakit. Ia tak bodoh dan tak lemah. Pria Oh itu tak terlambat mencarinya, hanya saja Hanna yang lebih dulu mencari tempat persembunyian hingga Sehun tak bisa menemukannya.

Singkat cerita, setelah Hanna keluar dari ruangan dokter sialan tadi, hatinya menggebu-gebu. Hingga ia tak melihat sekitar  yang menatap dirinya aneh. Namun, nalurinya mengenai seorang Oh Sehun begitu kuat. Kendati melihat sekilas, Hanna tahu kalau itu Sehun. Pria yang selalu memporak-porandakan hati dan pikirannya dalam sekali hentak. Keluar dari sebuah ruangan yang tak asing, namun masih samar dalam ingatannya.

Tanpa menunggu lama, Hanna lekas menghindar. Berlari sekuat tenaga untuk menghindari seorang pria bermarga Oh itu. Ingin sekali saja rasa egois itu mengungkung diri. Bersembunyi tanpa berani menampakkan diri. Mempermainkan semua skenario yang sudah ia buat dengan susah payah, agar hidup keduanya tenang. Ingin juga rasanya Hanna memekikkan sebuah kalimat di hadapan Sehun sekarang juga. Seperti; pergi dan jangan ikuti aku.

Itu semua mustahil. Karena, tanpa Sehun ketahui, Hanna menangis dalam diam. Ia menangis untuk pertama kalinya. Dan hanya untuk seorang Sehun ia menangis. Membiarkan semua lukanya larut dengan sendirinya. Seolah hanya air mata itu yang bisa menyembunyikan semua luka. Namun, liquid itu hanya tergenang di pelupuk mata. Enggan turun bak takut dengan medan peran.

Baiklah, ini semua menyiksa. Hanna berbalik dengan cepat ketika hati mengomando. Mengalahkan semua ego yang bercokol dalam otak. Mengesampingkan apa yang akan terjadi, hingga ia hanya menemukan pemandangan kosong tanpa sosoknya. Pria tegap itu tak ada. Pria tegap itu hilang bak ditelan bumi. Dan pria itu memilih enyah dari hadapannya. Satu pukulan telak pun Hanna dapatkan. Ia bahkan sempat membenarkan dokter sialan yang mengatakan bahwa ia mengidap Szikofrenia.

Sehun hanya menjadi bayangannya tanpa mau menampakkan diri. Sehun hanya bisa menjadi seorang pecundang yang brengsek dan penakut. Ia bahkan hanya bisa menahan hasrat untuk memeluk gadis itu. Ingin rasanya ia mendekap gadisnya itu dalam kehangatan. Membantu kinerja jaket yang menutupi kulit dan menahan hawa dingin itu dengan dada bidangnya. Juga segenap luka yang sudah ia buat untuk gadis Kiyomizu itu. Namun apa daya, Sehun hanya bisa bersembunyi. Sama seperti Hanna. Hingga keduanya bisa disimpulkan dua sejoli yang sama bodohnya dalam urusan cinta.

[TBC]

Hai!

bertanya mengapa aku melanjutkannya di FF pribadi? Entah kenapa setelah ngeliat statistiknya aku merasa gak yakin melanjutkannya lagi. So, aku post aja di sini, buat ngisi kekosongan gegara ayudia jarang nge-post.

Don’t forget to like and comment, guys!

Iklan

Penulis: PutrisafirA255

Hanya seorang manusia biasa yang suka menulis cerita tanpa ada unsur kesengajaan. Suka menghibur makhluk sejenis yang sedang sedih, meskipun diri sendiri merasakan hal yang sama. Baru kenal FF dua tahun namun sudah menggantungkan hidup dengannya. Jangan sungkan untuk bertanya tentangku. Aku gak gigit, kok! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s